Kajian Dhuha MS Kutacane: Keberadaan Orang Tua adalah Nikmat yang Patut Disyukuri

ms-kutacane.go.id – Kutacane – Mahkamah Syar’iyah Kutacane kembali melaksanakan kegiatan Kajian Dhuha sebagai bagian dari upaya membangun semangat pembinaan rohani dan memperkuat nilai-nilai keagamaan di lingkungan aparatur. Kajian tersebut menghadirkan Ibu Rina Santika, A.Md. AB., sebagai penceramah dengan materi yang mengangkat tema tentang pentingnya mensyukuri keberadaan orang tua dalam kehidupan.
Dalam kajiannya, disampaikan sebuah pengingat sederhana namun memiliki makna yang mendalam, yaitu bahwa keberadaan orang tua yang masih dapat ditemui hingga saat ini merupakan salah satu nikmat yang patut disyukuri. Kehadiran ayah dan ibu dalam kehidupan memberikan kesempatan kepada seorang anak untuk terus menunjukkan kasih sayang, berbakti, serta mendapatkan nasihat dan doa dari orang tua.
Kesempatan untuk bertemu, berbicara, memeluk, dan mendapatkan doa dari orang tua merupakan sesuatu yang sering kali dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, kesempatan tersebut merupakan nikmat yang tidak ternilai. Karena itu, selama orang tua masih diberikan kesempatan untuk hadir dalam kehidupan, sudah sepatutnya seorang anak memanfaatkan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya.
Materi kajian mengingatkan bahwa rasa syukur atas keberadaan orang tua tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan. Rasa syukur juga perlu ditunjukkan melalui sikap dan perbuatan nyata, antara lain dengan menghormati orang tua, menyayangi mereka, menjaga tutur kata ketika berkomunikasi, serta berusaha memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Berbakti kepada orang tua merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 8, Allah SWT memberikan perintah kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Pesan tersebut menunjukkan bahwa hubungan seorang anak dengan orang tua tidak hanya memiliki nilai sosial dan kekeluargaan, tetapi juga merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kesibukan dan berbagai tuntutan pekerjaan terkadang membuat seseorang kurang memberikan perhatian kepada orang tua. Karena itu, kajian tersebut menjadi pengingat agar kesempatan untuk menunjukkan kasih sayang dan penghormatan kepada orang tua tidak dilewatkan. Perhatian sederhana, tutur kata yang baik, serta kesediaan meluangkan waktu dapat menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berarti bagi mereka.
Kajian Dhuha ini juga mengajak para aparatur untuk melihat kembali makna keluarga dan hubungan dengan orang tua di tengah rutinitas pekerjaan. Menjalankan tugas dan tanggung jawab kedinasan tetap perlu diimbangi dengan perhatian terhadap keluarga, khususnya kepada orang tua yang telah memberikan kasih sayang, pendidikan, dan pengorbanan sepanjang kehidupan anak-anaknya.
Pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut pada akhirnya mengarah pada pentingnya tidak menunda kesempatan untuk berbuat baik kepada orang tua. Kehadiran mereka merupakan kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk terus berbakti dan menunjukkan rasa terima kasih. Ketika kesempatan tersebut masih ada, maka sudah selayaknya dimanfaatkan dengan penuh kesungguhan.
Kegiatan Kajian Dhuha di lingkungan Mahkamah Syar’iyah Kutacane diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan pembinaan keagamaan, tetapi juga memberikan nilai dan pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tentang berbakti kepada orang tua menjadi salah satu pengingat penting bagi seluruh aparatur untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan keluarga dan menjalankan kehidupan dengan penuh rasa syukur.
Melalui kajian tersebut, seluruh aparatur Mahkamah Syar’iyah Kutacane diingatkan untuk tidak menunggu kehilangan sebelum menyadari betapa berharganya kehadiran orang tua. Selagi masih diberikan kesempatan untuk bertemu, berbicara, memberikan perhatian, dan memohon doa mereka, hendaknya kesempatan tersebut dijadikan sebagai nikmat yang disyukuri serta diwujudkan melalui kasih sayang dan bakti kepada kedua orang tua.
(Tim Media Mahkamah Syar'iyah KutaCane)

